Gagal Juara pada Lomba Penyusunan Narasi Profiling BUMDes

Saya gagal lagi.

 

Ya. Setelah sebelum saya gagal dalam lomba podcast pendamping desa.

 

Kali ini, saya pun gagal, menjadi nominator ditingkat nasional, dalam ajang lomba penyusunan narasi profiling BUMDes yang diperuntukan bagi pendamping lokal desa dan pendamping desa seluruh Indonesia.

 

Entah apa yang salah pada diri saya. Sehingga saya, selalu saja gagal masuk nominasi, ketika sudah bertanding ditingkat nasional.

 

Padahal, bila mengacu pada kisi-kisi lomba penyusunan narasi profiling BUMDes yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Ditjen PEID Kemendes).

 

Saya sudah memasukan hampir semua unsur yang menjadi persyaratan lomba tersebut. Mulai dari font yang musti digunakan, size fontnya, spasi, hingga foto dan data sebagai penguat narasi.

 

Cuma bedannya, saya tidak membuat narasi tersebut, seperti karya tulis ilmiah. Yang general (umum), dan dibuat bab per bab, layaknya karya tulis yang saya kirimkan sebelumnya, dengan judul “Pendirian E-Commerce Pasarkampung.id di Era Pandemi Covid-19” yang direkomendasikan ke ICERC Kemendes.

 

Abstrak dan Daftar Isi Karya Ilmiah Pendamping Desa

Gambar : Abstrak dan Daftar Isi Karya Ilmiah Pendamping Desa

 

Akan tetapi, meskipun saya tidak membuat narasi tersebut, se-general yang mungkin diinginkan oleh para juri.
Namun, mulai dari kesesuaian tema, sejarah terbentuknya, perkembangan, hingga strategi pengembangan BUMDes. Saya yakin, semua unsur yang dipersyaratkan, itu seluruhnya sudah masuk didalamnya.

 

Terlebih, di era modern yang seperti ini, sekali lagi saya berkeyakinan, bahwa narasi profiling BUMDes yang saya buat itu. Akan lebih banyak peminat bacanya, dibandingkan narasi-narasi general yang mungkin dikirimkan oleh peserta lain.

 

Tapi, ya sudahlah. Karena semua keputusan, itukan ditangan juri, yang tidak bisa digangu, maupun digugat.

 

Ya kan?

 

Terlebih lagi, saya juga harus interopeksi diri. Agar kedepannya, saya bisa lebih baik lagi dan tidak menjadi orang yang selalu gagal dan tidak beruntung.

 

Terakhir, karena saya tidak bisa hadir secara langsung ke Bintan, Kepulauan Riau, dimana puncak festival Hari BUMDes itu diselenggarakan.

 

Saya hanya bisa ucapkan, selamat bagi seluruh nominator-nominator lomba penyusunan narasi profiling BUMDes yang di undang. Dan tak lupa, saya ucapkan pula“ Selamat Hari BUMDes 2023” yang kali pertama digelar.

 

Semoga kedepannya, baik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) maupun Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesMa) bisa lebih bersemangat dan menjadi tonggak kemajuan ekonomi desa.