Pelatihan Desa Berkedok Cuan

Bukan. Ini bukan masalah lembaga itu legal ataupun tidak.

 

Tapi, kalau pemerintah Desa dijadikan ajang ataupun subjek pelatihan hanya untuk mencari cuan semata, jelas saya pribadi tidak setuju.

 

Apalagi hanya pelatihan-pelatihan yang menurut saya itu tidak penting, alias tidak dibutuhkan oleh Desa saat ini. Justru itu hanya membuang-buang anggaran yang tidak perlu.

 

Sedari awal, saya membangun situs ini ialah sebagai media pembelajaran semata. Tidak lebih dan tidak kurang.

 

Banyak. Banyak yang ingin berkolaborasi dengan updesa untuk mengadakan pelatihan-pelatihan terkait Desa, baik itu ditingkat Daerah, bahkan sampai ke tingkat Provinsi.

 

Namun saya menolak.

 

Bukan saya pelit ilmu atau apa. Tapi ya memang, semua apa yang saya tahu itu sudah saya tuliskan di situs ini.

 

Tidak ada yang saya tutup-tutupi.

 

Beneran.

 

Gratis lagi.

 

Tanpa harus membayar berjuta-juta dan memasukannya kedalam APB Desa/Kampung/Nagari/Gampong dan/atau sebutan lain dan membutuhkan tanda-tangan di SPJ.

 

Paling cuma beli kouta saja, yang tidak habis Rp50 ribu, jika hanya untuk melihat update-update terbaru dari situs updesa.com tiap bulannya.

 

Itupun bisa kita anggarkan sendiri, tanpa harus merogoh kocek anggaran Desa.

 

Ya, kan?

 

Terlepas efektif atau tidaknya anda belajar melalui media ini. Itu semua kan tergantung dari pribadi masing-masing.

 

Sama saja, dengan pelatihan – pelatihan Desa yang dilakukan oleh para praktisi, akademisi, dan/atau ahli diluaran sana.

 

Mereka pun menjelaskan materi berdasarkan aturan, dan/atau berdasarkan pengalaman pribadi selama ia hidup di Desa.

 

Bedanya.

 

Mungkin kalau disana tidurnya di Hotel, dilengkapi kasur yang empuk dan ruangan ber-AC, serta dibarengi makanan yang tiap hari ganti menu.

Sedangkan disini, ya biasa-biasa saja, layaknya aktifitas harian kita, cuma pakai smartphone, browsing, dan baca.

 

Terlepas bisa di-praktek-kan di Desa atau tidak, kan semua itu kembali ke kitanya.

 

Betul kan.

 

Banyak juga kok, Desa yang sudah habis berjuta-juta untuk ikut pelatihan atau bimtek, namun hasil tetap juga nilih.

 

Desa tetap tertinggal, dan aparaturnya sama sekali tidak paham apa yang sudah dijelaskan oleh pemateri pada saat pelatihan.

 

Jadi intinya, kalau mau meningkatkan diri. Carilah pelatihan-pelatihan  atau panduan yang memang dibutuhkan oleh Desa, bukan pelatihan yang hanya titipan dan cari cuan semata.