Sanksi dan Penghentian Penyaluran Dana Desa 2026
Simbol Timbangan Keadilan dan Dokumen (Gemini)

Sanksi dan Penghentian Penyaluran Dana Desa 2026: Ini yang Harus Dihindari Kepala Desa

Diposting pada

Dana Desa adalah hak masyarakat desa yang pengelolaannya dipercayakan kepada kepala desa dan perangkat desa. Namun, amanah ini juga mengandung konsekuensi hukum. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 7 Tahun 2026 mengatur secara tegas bahwa dalam kondisi tertentu, Menteri Keuangan dapat menghentikan penyaluran Dana Desa. Penghentian ini bukan sekadar administrasi, melainkan respons atas pelanggaran yang dapat merugikan keuangan negara dan masyarakat.

 

Artikel ini akan mengupas tuntas 4 penyebab utama penghentian penyaluran Dana Desa, mekanisme penghentian, serta bagaimana desa dapat kembali menyalurkan dana setelah penghentian. Bagi kepala desa, pemahaman atas regulasi ini adalah benteng terakhir agar desa tidak kehilangan haknya.

 

Daftar Isi

 

1. Dasar Hukum Penghentian Penyaluran Dana Desa

 

Kewenangan Menteri Keuangan untuk menghentikan penyaluran Dana Desa didasarkan pada ketentuan Pasal 53 PMK Nomor 7 Tahun 20261Pasal 53 ayat (1): “Dalam hal terdapat permasalahan Desa, berupa: a. kepala Desa dan/atau bendahara Desa melakukan penyalahgunaan keuangan Desa dan ditetapkan sebagai tersangka; b. Desa mengalami permasalahan administrasi, ketidakjelasan status hukum, dan/atau ketidakjelasan status keberadaan Desa; c. penyalahgunaan wewenang oleh bupati/wali kota terkait pelantikan dan/atau penghentian kepala Desa yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau d. terdapat indikasi penyalahgunaan keuangan Desa untuk mendanai kegiatan yang mengancam keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Menteri dapat melakukan penghentian penyaluran Dana Desa reguler tahun anggaran 2026”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Kewenangan ini dilimpahkan secara mandat kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan2Pasal 53 ayat (2): “Penghentian penyaluran Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilimpahkan secara mandat kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

2. 4 Penyebab Penghentian Penyaluran Dana Desa

 

a. Kepala Desa/Bendahara Desa Tersangka Tindak Pidana

 

 

Penyebab pertama dan paling umum adalah adanya penetapan tersangka terhadap kepala desa dan/atau bendahara desa atas penyalahgunaan keuangan Desa3Pasal 53 ayat (1) huruf aPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Dalam hal ini, bupati/wali kota wajib melakukan pemantauan atas proses perkara hukum4Pasal 53 ayat (3): “Bupati/wali kota melakukan pemantauan atas proses perkara hukum penyalahgunaan keuangan Desa yang melibatkan kepala Desa dan/atau bendahara Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Jika berdasarkan pemantauan tersebut kepala desa dan/atau bendahara desa telah ditetapkan sebagai tersangka, bupati/wali kota wajib menetapkan pejabat pelaksana tugas kepala desa dan/atau bendahara desa5Pasal 53 ayat (4): “Dalam hal berdasarkan pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), kepala Desa dan/atau bendahara Desa telah ditetapkan sebagai tersangka, bupati/wali kota menetapkan pejabat pelaksana tugas kepala Desa dan/atau bendahara Desa”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Apabila bupati/wali kota tidak menetapkan pejabat pelaksana tugas, maka bupati/wali kota harus mengajukan surat permohonan penghentian penyaluran Dana Desa6Pasal 53 ayat (5) huruf aPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

 

b. Masalah Administrasi dan Status Hukum Desa

 

Penyebab kedua adalah desa mengalami permasalahan administrasi, ketidakjelasan status hukum, dan/atau ketidakjelasan status keberadaan Desa7Pasal 53 ayat (1) huruf bPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Contohnya adalah desa yang eksistensi wilayahnya sudah tidak ada, desa tidak berpenghuni, atau tidak terdapat kegiatan pemerintahan desa. Hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 17 ayat (3) yang menyatakan desa tidak mendapatkan alokasi jika kondisi tersebut terjadi8Pasal 17 ayat (3): “Desa tidak mendapatkan alokasi dalam hal: a. tidak bersedia menerima Dana Desa; b. eksistensi wilayah Desa sudah tidak ada; c. Desa tidak berpenghuni; d. tidak terdapat kegiatan pemerintahan Desa; dan/atau e. tidak terdapat penyaluran Dana Desa minimal 3 (tiga) tahun berturut-turut”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

c. Penyalahgunaan Wewenang oleh Bupati/Wali Kota

 

Penyebab ketiga adalah penyalahgunaan wewenang oleh bupati/wali kota terkait pelantikan dan/atau penghentian kepala Desa yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan9Pasal 53 ayat (1) huruf cPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Dalam kasus ini, penghentian penyaluran didasarkan pada surat rekomendasi dari kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri, berdasarkan hasil klarifikasi gubernur sebagai wakil Pemerintah10Pasal 53 ayat (5) huruf cPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

d. Indikasi Pendanaan Kegiatan yang Mengancam NKRI

 

Penyebab keempat adalah adanya indikasi penyalahgunaan keuangan Desa untuk mendanai kegiatan yang mengancam keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia11Pasal 53 ayat (1) huruf dPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Ini adalah penyebab paling serius. Penghentian didasarkan pada surat rekomendasi dari Panglima Tentara Nasional Indonesia, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan/atau kepala dari lembaga yang menangani urusan keamanan negara12Pasal 53 ayat (5) huruf dPMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

 

3. Mekanisme Penghentian Penyaluran

 

 

a. Dokumen yang Menjadi Dasar Penghentian

 

Penghentian penyaluran Dana Desa reguler dilaksanakan berdasarkan13Pasal 53 ayat (5)PMK Nomor 7 Tahun 2026:

 

  1. Surat permohonan penghentian dari bupati/wali kota (untuk kasus pidana jika tidak menetapkan Plt)
  2. Keputusan dan/atau surat rekomendasi dari Kemendagri dan/atau bupati/wali kota (untuk masalah administrasi desa)
  3. Surat rekomendasi dari Kemendagri (untuk penyalahgunaan wewenang bupati/wali kota)
  4. Surat rekomendasi dari TNI/POLRI/lembaga keamanan negara (untuk indikasi ancaman NKRI)

b. Tata Cara Penghentian

 

Penghentian penyaluran dilakukan mulai penyaluran tahap berikutnya setelah surat dimaksud diterima14Pasal 53 ayat (6): “Penghentian penyaluran Dana Desa reguler berdasarkan surat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan mulai penyaluran tahap berikutnya setelah surat dimaksud diterima”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Pelaksanaan penghentian dilakukan melalui naskah dinas Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan15Pasal 53 ayat (7)PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Selanjutnya, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan menyampaikan pemberitahuan kepada16Pasal 53 ayat (8)PMK Nomor 7 Tahun 2026:

 

  • bupati/wali kota;
  • menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang dalam negeri; dan/atau
  • Panglima TNI, Kapolri, dan/atau kepala lembaga keamanan negara.

 

4. Pencabutan Penghentian dan Penyaluran Kembali

 

a. Syarat Pencabutan Penghentian

 

Penghentian penyaluran dapat dicabut dan dana dapat disalurkan kembali jika kondisi berikut terpenuhi17Pasal 53 ayat (9)PMK Nomor 7 Tahun 2026:

 

  • Untuk kasus pidana: terdapat pencabutan status hukum tersangka, pemulihan status hukum tersangka, dan/atau sudah ditetapkan pejabat pelaksana tugas kepala Desa dan/atau Bendahara Desa
  • Untuk masalah administrasi: terdapat penyelesaian permasalahan administrasi, ketidakjelasan status hukum, dan/atau ketidakjelasan status keberadaan Desa
  • Untuk kasus bupati: telah dilantik kepala Desa hasil pemilihan oleh bupati/wali kota sesuai ketentuan
  • Untuk kasus keamanan: tidak terdapat lagi indikasi penyalahgunaan Keuangan Desa untuk mendanai kegiatan separatis

 

Penyaluran kembali dilakukan setelah Menteri menerima surat18Pasal 53 ayat (10)PMK Nomor 7 Tahun 2026:

 

  • permohonan pencabutan penghentian dari bupati/wali kota;
  • rekomendasi dari bupati/wali kota dan/atau Kemendagri;
  • rekomendasi dari Kemendagri (untuk kasus bupati); atau
  • rekomendasi dari TNI/POLRI/lembaga keamanan negara.

 

b. Batas Waktu Penyaluran Kembali

 

Penyaluran kembali dapat dilakukan pada tahun anggaran berjalan jika surat diterima paling lama 7 (tujuh) hari kerja sebelum batas waktu penerimaan dokumen penyaluran (sesuai Pasal 24 ayat 4)19Pasal 53 ayat (11): “Penghentian penyaluran Dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (7), dapat disalurkan kembali ke RKD pada tahun anggaran berjalan dalam hal surat sebagaimana dimaksud pada ayat (10) diterima paling lama 7 (tujuh) hari kerja sebelum batas waktu penerimaan dokumen penyaluran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (4)”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Jika surat diterima setelah batas waktu tersebut, Dana Desa tidak disalurkan dan menjadi sisa Dana Desa di RKUN yang tidak dapat disalurkan kembali pada tahun anggaran berikutnya20Pasal 53 ayat (12) dan (13)PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Pencabutan penghentian ditetapkan melalui naskah dinas Menteri yang dilimpahkan secara mandat kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan21Pasal 54 ayat (1) dan (2)PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

5. Penghentian Penyaluran Insentif Desa

 

Ketentuan penghentian juga berlaku bagi desa penerima insentif. Jika terdapat permasalahan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1), Menteri melakukan penghentian penyaluran insentif Desa tahun anggaran 202622Pasal 55 ayat (1): “Dalam hal terdapat permasalahan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) pada Desa yang menerima Insentif Desa tahun anggaran 2026, Menteri melakukan penghentian penyaluran insentif Desa tahun anggaran 2026”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Insentif yang dihentikan penyalurannya menjadi sisa Dana Desa di RKUN dan tidak disalurkan pada tahun anggaran berikutnya23Pasal 55 ayat (3)PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

6. Sanksi bagi Bupati/Wali Kota: Penundaan DAU

 

Jika permasalahan desa disebabkan oleh penyalahgunaan wewenang bupati/wali kota, Menteri dapat melakukan penundaan penyaluran dana alokasi umum (DAU) yang tidak ditentukan penggunaannya24Pasal 57 ayat (1): “Dalam hal terdapat permasalahan Desa yang disebabkan penyalahgunaan wewenang oleh bupati/wali kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (1) huruf c, Menteri dapat melakukan penundaan penyaluran dana alokasi umum yang tidak ditentukan penggunaannya”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Penundaan dilaksanakan berdasarkan surat rekomendasi dari Kemendagri, dilakukan pada periode penyaluran DAU berikutnya, dengan besaran 3% dari jumlah penyaluran DAU pada periode bersangkutan25Pasal 57 ayat (3), (4), dan (5)PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Penyaluran kembali DAU yang ditunda dilakukan setelah Menteri menerima surat rekomendasi penyaluran kembali dari Kemendagri. Jika hingga 15 November rekomendasi belum diterima, Menteri tetap menyalurkan kembali DAU yang ditunda26Pasal 57 ayat (8) dan (9)PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

7. Status Sisa Dana Desa yang Tidak Tersalur

 

Dana Desa yang dihentikan penyalurannya dan tidak dapat disalurkan kembali menjadi sisa Dana Desa di RKUN. Penting untuk dipahami bahwa sisa dana ini tidak dapat disalurkan kembali pada tahun anggaran berikutnya27Pasal 53 ayat (13): “Sisa Dana Desa di RKUN sebagaimana dimaksud pada ayat (12) tidak dapat disalurkan kembali ke RKD pada tahun anggaran berikutnya”PMK Nomor 7 Tahun 2026.

 

Artinya, desa yang terkena penghentian penyaluran berisiko kehilangan hak atas dana tersebut secara permanen jika tidak segera menyelesaikan permasalahan dan mengajukan pencabutan penghentian sebelum batas waktu yang ditentukan.

 

Sanksi dan penghentian penyaluran Dana Desa bukanlah sekadar ancaman formalitas. Regulasi ini dirancang untuk menjaga agar dana publik benar-benar sampai ke masyarakat dan digunakan sesuai peruntukannya. Bagi kepala desa, ada tiga hal yang harus dihindari: pertama, hindari penyalahgunaan keuangan desa yang berujung pada penetapan tersangka; kedua, pastikan status administrasi dan hukum desa jelas; ketiga, jaga netralitas desa dari kegiatan yang mengancam NKRI.

 

Jika terlanjur terjadi masalah, segera koordinasikan dengan bupati/wali kota untuk menetapkan pejabat pelaksana tugas atau menyelesaikan permasalahan administrasi. Ingat, batas waktu 7 hari kerja sebelum penutupan dokumen penyaluran adalah penentu apakah desa masih bisa menyelamatkan dana tersebut atau kehilangan hak selamanya. Semoga desa Anda terhindar dari sanksi dan penghentian penyaluran Dana Desa.

Gambar Gravatar
Mariyadi adalah Business Assistant (BA) KDKMP di Kementerian Koperasi Republik Indonesia. Pengalamannya yang lebih dari 10 tahun dimulai dari akar rumput sebagai perangkat desa, lalu diperdalam sebagai Tenaga Pendamping Profesional (TPP) di Kemendes PDT. Tulisan-tulisan di blog ini lahir dari persimpangan unik ketiga peran tersebut, dan ditujukan untuk menjadi referensi praktis yang menjembatani kebijakan dengan realita lapangan, menuju kemandirian desa dan koperasi desa Indonesia.