BUM Desa adalah Masa Depan bukan Tempatnya Pengalihan

Dari 50 ribu sekian BUMDes yang telah berdiri, ternyata hanya ada sekitar 10 ribuan sekian BUMDes yang aktif bergerak.

 

Usahanya pun beragam. Tapi, tidak banyak yang bisa membuat saya berkata “wow”.

 

Biasa aja.


Monoton.


Sulit di boosting untuk mendokrak pendapatan asli desa dengan skala besar.

 

Padahal, jika kita telisik lebih jauh, BUMDes itu masa depan.

 

Masa depan dimana ketika dana desa di stop oleh pemerintah pusat. Maka, BUMDes lah yang akan menjadi menopang perekonomian warga.

 

Saat ini banyak yang “menyebelah-kan mata” terkait lembaga ini, dan lebih memilih dengan mengagung-agungkan sektor pembangunan desa sebagai fokus utama.

 

Padahal, jika dikelola dengan baik dan dengan usaha yang pas atau sesuai potensi desa.

 

Baca : Apakah Direktur BUMDes dapat Dipilih Oleh Kepala Desa?

 

Bukan tidak mungkin, selain meningkatkan pendapatan asli desa, BUMDes pun akan mampu menjadi perusahaan raksasa kelas desa ” super holding desa” yang mampu memperkerjakan seluruh warga desa dalam satu ruang lingkup.

 

 

Sebenarnya, kegagalan usaha BUM Desa itu salah siapa ?

 

 

Apakah salah kita yang terlalu gagap dan tidak terbiasa didalam mengurus dan memilih jenis usaha yang akan dijalankan BUMDes.

 

Ataukah kita yang malah lebih memilih fokus ke bidang pembangunan sebagai nilai acuan keberhasilan suatu pemerintahan desa.

 

Kalau itu masalahnya. Ayo mulai sekarang, kita berfikir lebih kreatif lagi untuk mengembangkan lembaga ini.

 

Salah satu caranya ialah dengan memberikan ruang yang lebih luas kepada pengurus BUMDes untuk dapat berekperiment.

 

Biarkan mereka berfikir secara mandiri, usaha apa yang hendak dijalankan, dan berapa kira-kira keuntungan yang akan diperoleh.

 

Cari usaha itu jangan yang biasa-biasa saja, cari usaha yang kira-kira menurut orang lain mustahil untuk dijalankan.

 

Itu yang namanya tantangan.

 

Selanjutnya, ini pesan saya bagi mereka yang mempunyai pikiran picik bin dengki.

 

Tolonglah, ketika usaha BUMDes berhasil. Jangan lantas kita iri dan mencoba menggulingkan mereka supaya kita dapat jatah posisi mereka.

 

Biarkan mereka berkembang jauh lebih besar. Toh seandainya ada dugaan korupsi, kan juga ada lembaga yang mengawasi seperti Inspektorat, BPKP, Kejaksaan, dan KPK.

 

Baca juga : Bolehkah Dana BUMDes Untuk Membeli Tanah?

 

Jadi tidak usahlah kita terlalu kuatir berlebihan.

 

Karena setiap uang rakyat yang dikucurkan pemerintah, barang tentu ada pertanggungjawabannya.

 

Baik itu di dunia maupun di akhirat, ya kan.

 

Satu lagi pesan saya buat kepala pemerintahan desa, dalam hal ini kepala desa.

 

Tolonglah, kalau mencari pengurus itu mbok yo yang mumpuni. Jangan asal pilih, apalagi kerabat sanak family yang tidak memiliki skill sama sekali.

 

Cari pengurus BUMDes itu ya paling tidak menguasai ilmu marketing dan memiliki jiwa enterprenuer, serta di musyawarahkan dulu dengan warga agar tidak ada kesalahpahaman.

 

Lalu, ini yang tidak kalah penting.

 

Mohonlah, mulai sekarang ubah mainset kita. Agar tidak menjadikan sektor pembangunan satu-satunya nilai acuan kesuksesan pemerintahan desa.

 

BUMDes juga perlu ditopang anggaran yang besar. Supaya sektor pemberdayaan juga ikut berkembang dan lebih dirasakan lagi hadirnya dana desa di tengah-tengah warga.

 

Terakhir, BUM Desa adalah masa depan bukan tempatnya pengalihan.

 

Maksudnya, ketika dana desa sudah ditrasferkan ke rekening Badan Usaha Milik Desa (BUM-Desa).

 

Biarkan mereka belanja sesuai peruntukan. Jangan lantas kita mengatur-atur, gondeli, ataupun bahkan kita yang malah membelanjakan uang BUMDes tersebut.

 

Toh, mereka juga kan sudah membuat proposal analisa kelayakan usaha BUMDes, yang apabila menyimpang kita wajib membina.

 

Kalau pun masih ngeyel dan menyimpang agak jauh serta menganggap dana BUMDes itu miliknya, ya binasakan.

 

Baca juga : 10 Langkah Mudah Menyusun AD/ART Bumdes